SUKSES TANPA KULIAH FACEBOOK PAGE STATISTICS

Sukses Tanpa Kuliah

Sukses Tanpa Kuliah

Facebook Link: Sukses Tanpa Kuliah
Sukses bermula dari pikiran kita. Sukses adalah kondisi pikiran kita. Bila Anda menginginkan sukses, maka Anda harus mulai berpikir bahwa Anda sukses, dan mengisi penuh pikiran Anda dengan kesuksesan.
 

FACEBOOK PAGE RANK

SUKSES TANPA KULIAH
LIKES:
ONE WEEK CHANGE
59
+0
0.00%
TALKING ABOUT:
ONE WEEK CHANGE
0
+0
0.00%
CATEGORY
233,510 OF 437,517
top 53.38%
SUBCATEGORY
166,875 OF 331,374
top 50.36%

PAGE PERFORMANCE

LIKE HISTORY STATISTICS
ONE WEEK CHANGE
LIKES TALKING ABOUT
Get like history for Sukses Tanpa Kuliah

0 RELATED WEBSITES

1 RELATED PAGES

Bisnis Anak Muda Facebook Statistics
Bisnis Anak Muda
LIKES: 413 TALKING ABOUT: 2

WHAT ARE PEOPLE SAYING ABOUT SUKSES TANPA KULIAH ON FACEBOOK

44
PER MONTH
0.06
PER HOURS
2.67
LIKES
PER POST

SUKSES TANPA KULIAH FACEBOOK MENTION TOTALS

While the content on facebook pages is normally managed by a "brand" administrator, this content here shows statistics about what's being said and shared about Sukses Tanpa Kuliah all over Facebook and not just on the brnad's official page.

POPULAR ON FACEBOOK

%0.00
%77.78
%22.22
%0.00

VIDEOS

STATUSES

Pipit Rapih Himayanti
Pipit Rapih Himayanti
Wied Silalahi shared the following link and had this to say about it: Bagi kalian yang masih sekolah ato kuliah : Peluang Bisnis yang Bisa membuat Kamu menjadi Jutawan Muda. Mauuu??? klik di sini http://www.bisnismudamudi.com/?id=clickit anak muda juga bisa punya penghasilan setara dengan mereka bahkan melebihi! sebuah peluang bisnis tanpa harus ketinggalan pelajaran sekolah atau kuliah. Simak cara sukses bisni...
Musa Sukses Full
Musa Sukses Full
Bob Sadino vs Mario Teguh Bob Sadino: "Mau kaya? berhentilah sekolah atau berhentilah kuliah sekarang juga, and start action. Karena ilmu di lapangan lebih penting, daripada ilmu di sekolahan atau kuliahan." VS Mario Teguh: "Berhati-hatilah dengan orang yang membanggakan keberhasilannya, walaupun dia berpendidikan rendah. Itu tidak boleh dijadikan dalil, pendidikan itu penting. Buktinya, dengan pendidikan yang sedikit saja, dia bisa berhasil. Apalagi jika dia terdidik dengan lebih baik... Bukankah kita dianjurkan untuk menuntut ilmu sampai ke negeri China? Dengan ilmu, segala sesuatu bisa mencapai kualitas tertingginya." Apa pilihan Anda ? Detail ~> http://pelakukdrt.com/kdrt/wirausaha-ala-bob-sadino-usaha-sukses-dan-bisnis-tanpa-modal/ #SalamKDRT^_^
Arie Jayanthy Faf
Arie Jayanthy Faf
ga masalah kok km blm gabung sekarang..nanti dulu deh, blm sempet, sibuk ngurus ini itu,ga bakat bisnis, disini ga ada pasarnya..tp coba deh liat yg dah sukses,yg buang semua excuse..ada yg siang kerja malam kuliah s2, ada irt bbrp anak tanpa asisten, ada yg dipedalaman susah sinyal, tp mereka fight sampai bs sukses;)mulainya dr skrg maka lbh cpt km dekat ke impianmu..hidup itu pilihan kan;)
Arif Syamsudin
Arif Syamsudin
Jodoh, siapa sih yang bisa menebak dan mengetahuinya? Tak ada seorangpun yang bisa tahu pasti siapa jodohnya. Tidak lewat kartu tarot, tidak juga lewat ramalan bintang apapun. Jodoh itu ya di tangan Allah, hanya Allah SWT saja yang mengetahui siapakah pasangan tulang rusuk kita. Dibesarkan di lingkungan yang sama, aku dan Reza tumbuh sebagai sahabat baik. Seperti tak pernah ada batasan di antara kami, karena kami tahu seluk beluk dan kebiasaan masing-masing. Kami juga saling berbagi cerita, tentang keluarga, tentang teman, apapun yang bisa kami bahas sampai malam. Kebiasaan itu sudah kami lakukan sejak kecil dulu. Sambil duduk di atas genteng kamar dan membawa sebuah senter kecil, kami saling menceritakan semua kejadian sehari-hari. Mengejar impian, kamipun akhirnya berpisah. Menempuh jalur pendidikan di kota besar yang saling berjauhan. Aku mengambil di Jogja, dan Reza di Jakarta. Kamipun terlarut dalam kehidupan masing-masing. Sama-sama punya kekasih yang terkadang jadi bahan curhatan kami setiap ada waktu untuk chatting. Ya, meskipun kami berjauhan, kami masih intens berkomunikasi . Sudah seperti kakak adik, kami saling menjaga dan mengingatkan. Saling menguatkan, menghibur dan memberi semangat. Terkadang, jika kumat usilnya, Reza juga tak segan menggodaku. Tapi, yah... semuanya terasa seperti biasa saja. Kami saling mengerti posisi masing-masing, dan menganggap hubungan kami sebagai persahabatan sejati. Lulus kuliah, kami memilih menetap di kota tempat kami kuliah. Sudah ada pekerjaan yang sama-sama menanti kami, dan juga pasangan. Bahkan beberapa bulan lagi, aku sudah merencanakan pernikahan dengan tunanganku, mas Tyo, kekasihku sejak semester 3. Aku pernah mengenalkan mas Tyo pada Reza, komentarnya simple, "ah, masih gantengan aku Ra!" katanya sambil tersenyum. Komentar narsis yang memang sejak dulu ia enggan dikalahkan siapapun dalam hal penampilan. Aku sendiri juga sempat dikenalkan dengan kekasihnya, Arini namanya. Seorang gadis kota yang super enerjik dan cantik. Tak heran jika Reza tergila-gila padanya, cantiknya bagai artis di televisi. Herannya, Reza belum pernah bercerita dan mengungkapkan keinginannya meminang Arini. Padahal, setahuku secara materi Reza juga bisa dibilang sudah siap dan mapan. *** Jelang empat bulan pernikahanku, komunikasiku dengan Reza semakin intens. Ia juga sering berkunjung ke Jogja dan stay untuk beberapa waktu karena urusan dinas. Tak ingin membuang waktu, kamipun sering keluar bersama. Kuajak ia mengelilingi kota Jogja, menunjukkan setiap sudut kota yang menarik . Aku sendiri senang jalan-jalan dengannya, seperti tak pernah ada beban, selalu tertawa dan santai. Aku tak pernah khawatir ia akan marah bila aku tertegun pada sebuah barang lama . Reza juga sangat telaten menemaniku di waktu senggangnya, untuk sekedar makan es di pinggir jalan, atau duduk-duduk saja di depan sebuah toko larut malam. Terdengar seperti aktivitas sederhana yang biasa saja, tetapi aku merindukan kebersamaan itu. Kebersamaan dan perhatian yang tak pernah kudapatkan dari kekasihku, mas Tyo. Sejak itulah, ada sebuah perasaan aneh di dalam diriku. Aku merasa benar-benar aku saat bersama Reza. Tapi, segera saja kutepis lamunanku. Ahh... mungkin ini karena aku merindukan masa laluku bersamanya waktu kecil dulu, pikirku. *** Dua bulan lagi aku menikah. Aku mendapatkan kabar dari Reza bahwa ia segera pindah ke Jogja. Kantornya memberikan promosi untuk dirinya, dan kudengar jabatannya cukup bagus. Haha... tak kusangka, Reza yang dulu sering mengajakku membolos justru menjadi sosok yang sukses dalam pekerjaannya. Saat mengerjakan PR dan ulangan saja ia tak pernah absen menyalin hasil pekerjaanku. Tapi kini, ia menjadi sosok yang berbeda rupanya. Jujur, aku deg-degan mendengarkan kabar itu. Senang bercampur bingung. Bagaimana kalau... Ah, sedang berpikir tentang apa sih aku ini. Kan dua bulan lagi aku akan menikah dengan mas Tyo. Lagipula, Reza adalah sahabat sejak kecil dan sudah seperti saudara sendiri. Dipeluk dan digandeng olehnya sudah biasa, bukan seperti hal yang istimewa, walaupun kuakui, ada kenyamanan yang luar biasa saat itu... Hari yang membuatku deg-deganpun datang. Aku sendiri yang akhirnya menjemput Reza di bandara. Mengantarnya ke sebuah rumah, yang sudah disiapkan perusahaan untuknya. Rumahnya sederhana sih, kecil, tapi kelihatannya nyaman. "Nah, sekarang aku sudah tinggal di sini, aku nggak mau ah jajan di luar. Kamu yang harus memasak untukku Ra," katanya sambil meletakkan semua tas dan menghitung kembali dos-dos yang masih dipacking rapi. "Enak aja, buruan nikah sana... biar ada yang ngurusin kamu," aku melemparkan sebuah bantal sofa yang sedang kurapikan. "Sama siapa? sama kamu?", timpalnya membuatku terdiam. Tampaknya Reza menyadari perubahan mimik wajahku, iapun sejenak terdiam dan beringsut ke kamar membawa serta barang-barang yang hendak dikeluarkan. Aku masih sibuk merapikan bantal-bantal di ruang keluarga. Terduduk di sofa dan memandang keluar ke arah jendela. Tanpa kusadari, ternyata Reza telah duduk di sebelahku. Mengambil bantal yang ada di pangkuanku, dan mencium lembut bibirku. Aku terhenyak, memandangnya dan terdiam selama beberapa detik sebelum kemudian menghujaninya dengan pukulan bantal. Ia hanya tertawa, dan perang bantalpun terjadi. Aku benar-benar teringat pada masa kecilku, masa yang penuh keceriaan dan perhatian hangat dari Reza. *** "Gimana kalau kita menikah, Ra?" pertanyaan Reza terdengar seperti mimpi bagiku, mimpi yang mungkin jadi kenyataan. Aku masih tak percaya, ini kenyataan atau mimpi ya. "Ini bukan mimpi, Ra. Kepindahanku ke Jogja ini sebenarnya sudah kurencanakan sejak lama. Aku memilih Jogja karena ada kamu di sini..." katanya. "Lantas, bagaimana dengan Arini?" tanyaku. "Hubunganku sudah lama tak berhasil dengannya. Aku tak bisa menghilangkan kamu dari pikiranku. Kamu boleh percaya boleh tidak, semua itu sudah kurasakan semenjak masuk bangku kuliah dulu. Ada yang hilang saat jauh dari kamu. Tapi kemudian kudengar kamu sudah punya pacar. Eh, sekarang malah mau menikah..." "Nah, itu kamu tahu aku sudah mau menikah. Bulan depan aku mau nikah Za. Kamu ini gila atau cuma mau ngerjain aku aja sih?" aku jadi marah bercampur excited. Rasa yang tak karuan dan sekaligus langsung membuatku stress saat itu juga. Reza memegang tanganku, berlutut di depanku dan meminangku bak adegan di televisi. "Aku serius Ra, aku nggak bisa hidup jauh dari kamu. Aku merasa dan aku yakin kamu belahan jiwaku. Dan aku tahu kamu juga merasakan hal yang sama..." *** Dengan besar hati, mas Tyo menerima keputusanku. Dia tidak marah, dia malah mendoakan kebahagiaanku. Pesta pernikahan yang tadinya hendak kulangsungkan dengannya, mendadak digantikan oleh Reza. Dan anehnya, semua surat dan pengurusan bisa dilakukan dalam waktu yang singkat. Rasanya seperti sebuah kebetulan yang sudah diatur. Tidak ada kendala apapun dalam pernikahan kami yang mendadak itu. Untuk itulah aku percaya, Reza, dialah jodohku yang sebenarnya.
Herman Saleh
Herman Saleh
Saat Kenyataan Tak Sesuai Impian... Banyak orang yang merasa frustasi karena kenyataan mereka tidak sesuai dengan impian. Sebagai contoh, ada seorang anak yang ingin kuliah di Universitas A, tapi nyatanya biaya tidak mencukupi. Atau, mereka yg merantau ke kota besar, bermimpi ingin mendapatkan pekerjaan berkelas nasional bahkan internasional, tapi nyatanya yang didapatkan hanyalah pekerjaan biasa-biasa saja & apa adanya. Ada juga seorang pengusaha, yg mungkin mengharapkan kenaikan profit 10 kali, malah mengalami kebangkrutan. Apa yang kita harapkan, kadang memang tidak sesuai dengan kenyataan. Lalu apa yang harus kita lakukan? Berikut adalah 3 langkah atau tips yang bisa Saudaraku lakukan saat mimpi tidak sesuai dengan kenyataan: 1. Bertindaklah selalu secara fleksibel dan dinamis Jika Saudaraku betul-betul ingin menggapai kesuksesan, maka diperlukan *kesiapan* untuk bisa bertindak secara fleksible dan dinamis terhadap setiap perubahan yang terjadi. Sekarang, saya akan buat sebuah analogi sederhana... Saat ada badai atau angin topan yang besar, tidak jarang kita melihat pohon yang memiliki batang yang sangat besar tumbang! Apa sebab? Sebab mereka tidak kuat menahan beban yang diterima. Namun coba tengoklah bambu! Karena batangnya yang lentur, maka bambu bisa fleksibel bergerak ke segala arah, dan jarang tumbang! Nah, begitu pun dengan kita! Jika kita bertindak dan berpikir dinamis dan juga fleksibel, maka kita akan lebih tahan dalam menghadapi tantangan dan perubahan serta masalah yang datang. 2. Berpikirlah bahwa INILAH yang terbaik untuk kita! Saat kenyataan tidak sesuai dengan impian, percayalah bahwa inilah yang terbaik untuk kita. Kita tidak pernah tahu skenario yang telah ditetapkan-Nya. Karena, segala sesuatu yang menurut logika kita baik, bisa jadi justru sebaliknya di mata Allah! Berpikirlah selalu positif atas apapun yang terjadi pada diri Saudaraku. Jangan biarkan satu kegagalan membuat Saudaraku kecewa, apalagi sampai frustasi dan berlarut-larut. Saudaraku tahu apa yang saya lakukan jika ada satu mimpi atau keinginan saya tidak kesampaian? Saya biasa mengatakan: "Sudahlah Herman, kamu tdk perlu kecewa, don't ask me why, it is GOOD for you! Sekarang kamu dengarkan baik-baik, Allah akan menggantinya dengan YANG LEBIH BAIK! Allah tau kamu orang yg baik & bijaksana. Hidupmu penuh dengan kelimpahan, dan kamu memang dilahirkan utk slalu jadi pemenang!" Saya biasa mengatakannya di depan cermin dengan penuh keyakinan, tentunya saat saya sendirian! hehe... It works for me! :-) Saudaraku juga boleh coba nanti ;-) Apa yang saya lakukan di atas itu adalah 'afirmasi'. Afirmasi adalah kata-kata positif yang diucapkan berulang-ulang & diyakini untuk membentuk citra postif untuk mengurangi sikap-sikap negatif dalam diri kita. Kata-kata afirmasi ini bisa kita buat/ rancang sendiri, dan lalu bisa diucapkan secara verbal atau dalam hati. Menurut ahli Hynotherapy, afirmasi itu akan 'terekam' oleh alam bawah sadar kita. Dan jika terus-menerus diucapkan & dengan penuh keyakinan, maka kita SEDANG atau AKAN menjadi seperti itu adanya, yang kita ucapkan! Dengan kata lain, afirmasi itu sama seperti DO'A. Okay, sekarang selanjutnya! :-) Meski saat ini apa yang kita harapkan belum sesuai dengan impian, namun kita harus.... 3. Tetap Siapkan MENTAL PEMENANG! Saat kita mengalami kegagalan, lebih baik instropeksi diri daripada menyalahkan takdir. Siapa tahu, kita memang belum siap jadi pemenang! :-) Bisa jadi kesuksesan hanya akan membuat kita menjadi sombong, dan karena saking sayangnya Allah kepada kita, Ia tidak mau hamba-Nya berbuat dosa. :-) Saudaraku, setiap kemenangan itu lebih baik dirintis dari setiap peluh kita! Akan lebih baik jika kemenangan itu kita dapatkan setahap demi setahap. Banyak orang sukses, tapi kemudian mereka terjatuh. Ada yang bangkit lagi, ada yang tidak. Liku hidup setiap manusia memang tidak sama. Tapi ingat, kesempatan untuk menang itu selalu terbuka bagi siapa saja, tanpa terkecuali! Rejeki dan kemenangan itu sungguh tidak terkira banyaknya dari Allah, masih banyak yang menggantung di langit! :-) Sekarang tinggal bagaimana cara Saudaraku! Apakah mau meraihnya? atau mengharapkan turun dengan sendirinya? Saya sarankan, jangan pernah memilih yang kedua :-) Kita semua tahu bahwa yang namanya kemenangan itu seringkali dimiliki oleh mereka yang... tdk pernah berhenti berusaha!
Zhen Ozhen
Zhen Ozhen
tanpa bekal yg u tuntut ke ortu, tanpa kuliah pun w bkalan bsa sukses, cayoo... thanks
Michelia Juliansyah
Michelia Juliansyah
Ga' masalah kok km blm gabung sekarang..nanti dulu deh, blm sempet, sibuk ngurus ini itu,ga bakat bisnis, disini ga ada pasarnya..tp coba deh liat yg dah sukses,yg buang semua excuse..ada yg siang kerja malam kuliah s2, ada irt bbrp anak tanpa asisten, ada yg dipedalaman susah sinyal, tp mereka fight sampai bs sukses;)mulainya dr skrg maka lbh cpt km dekat ke impianmu..hidup itu pilihan kan;)

LINKS

PHOTOS

Report this page

If there is a problem with this page, we would like to know about it so we can correct the problem or remove the page.

Please select the reason you want to report this page:

   Sexually explicit content
   Violence or harmful behavior
   Hate speech
   Spam or scam
Terms of Service Contact Us Privacy Policy Facebook page statistics Facebook website statistics Report this page © 2013 CommuniStats    * This website is not affiliated with or endorsed by Facebook in any way